PELAYANAN INKLUSI PADA LEMBAGA UNTUK KESEJAHTERAAN PEREMPUAN DAN ANAK MELALUI PELATIHAN BAHASA ISYARAT DI KOTA MEDAN
Keywords:
Bahasa Isyarat, Inklusi Sosial, Disabilitas, TuliAbstract
Penyandang disabilitas rungu (tuli) masih menghadapi hambatan besar dalam mengakses layanan sosial. Minimnya kemampuan lembaga Pelayanan Sosial termasuk lembaga pelayanan sosial untuk kesejahteraan perempuan dan anak dalam berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) dan mitra lainnya di Kota Medan dalam memberikan layanan inklusif melalui pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penyadaran, pembentukan kelompok belajar, pelatihan dasar bahasa isyarat, dan pembentukan komunitas berkelanjutan via media digital. Hasil menunjukkan bahwa para peserta pelatihan memiliki pengetahuan, kesadaran mengenai budaya tuli serta keterampilan dasar bahasa isyarat. Pelatihan ini juga membentuk fondasi bagi lembaga pelayanan sosial yang lebih ramah disabilitas.
References
Gumelar, G., Hafiar, H., & Subekti, P. Bahasa Isyarat Indonesia Sebagai Budaya Tuli. Jurnal INFORMASI, 48(1). (2018): 65–78.
Mursita, R. A. Respon Tunarungu Terhadap Penggunaan SIBI dan BISINDO. Jurnal INKLUSI, 2(2). (2015): 221–232.
Ulfah, S. M., & Ubaidah, S. Penerapan Bahasa Isyarat dalam Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. JDSR, 2(1). (2023): 6–23.
Izza, M. Multidimensi Kemiskinan. Surakarta: UNS Press, 2009.
Majda El Muhtaj. (2008). Dimensi-Dimensi HAM. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Thamrin, H., Masril, M., & Sembiring, W. M. Model Sosial Service dalam Empowerment Welfare. Proceedings ICOSOP 2016, 2017.
LPPM Universitas Sumatera Utara. Panduan Pengabdian Masyarakat Edisi 4. 2020.







