PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN PERAN SISWA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KESEHATAN MELALUI PROGRAM EDUKASI TERSTRUKTUR DI SMA NEGERI 4 BARRU

  • Arjuna A 15Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Permana A.D Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Himawan A Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Amir M.N Farmasi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Habibie H Farmasi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Mamada S.M Farmasi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Ismail I Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Asri R.M Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Nurqamar I.F Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNHAS
  • Djide N.J Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Purwaningsih D Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Utami RN Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Viqhi A.V, Hafid R.A Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Farras M.T.A Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Mahmud A.M.A.A Farmasi Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi UNHAS
  • Rasyid F.P Ilmu Hukum, Fakultas Hukum UNHAS

Keywords

Edukasi Kesehatan, Obat, Kosmetika, Suplemen Makanan, Duta Kesehatan Siswa, Sekolah Menengah

Abstract

Penggunaan obat, kosmetika, dan suplemen makanan yang tidak rasional di kalangan remaja sekolah merupakan potensi risiko kesehatan yang signifikan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan serta mendorong peran aktif siswa sebagai duta kesehatan di SMA Negeri 4 Barru. Survei awal terhadap 89 responden (Google Form, Juni–Juli 2025) menunjukkan bahwa 62,9% siswa tidak mengetahui perbedaan obat generik dan bermerek, 71,9% tidak memahami simbol kemasan obat, 40,4% tidak berdiskusi tentang kosmetik dengan guru/orang tua, dan hanya 56,2% yang memahami perbedaan suplemen dan obat. Kegiatan edukasi dilaksanakan pada 11 Agustus 2025 melalui tiga tahap: (1) survei awal, (2) edukasi paralel di lima kelas menggunakan metode diskusi interaktif dan permainan edukatif, serta (3) evaluasi dan pemilihan duta kesehatan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan rata-rata sebesar 25,8 poin (pre-test ke post-test) dan terpilihnya 10 siswa sebagai duta kesehatan sekolah. Program ini memperlihatkan efektivitas pendekatan partisipatif berbasis survei kebutuhan dalam promosi kesehatan di lingkungan sekolah menengah

References

[1] Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). 2023. Edukasi Penggunaan Kosmetika Aman. Jakarta: BPOM.

[2] Handayani, L., Sari, D. P., dan Putri, R. 2020. "Program duta kesehatan remaja berbasis sekolah dalam meningkatkan literasi kesehatan." Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan 2, no. 1: 45–52.

[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). 2021. Promosi Kesehatan Berbasis Sekolah. Jakarta: Kemenkes.

[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). 2022. Pedoman Penggunaan Obat Rasional di Masyarakat. Jakarta: Kemenkes.

[5] Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

[6] Rahmawati, F., dan Nugraheni, A. Y. 2021. "Persepsi dan perilaku konsumsi suplemen kesehatan pada remaja." Jurnal Kesehatan Masyarakat 17, no. 3: 220–228.

[7] Susanto, H., Puspitasari, R., dan Lestari, W. 2019. "Pengetahuan dan perilaku penggunaan kosmetik pada remaja." Jurnal Kesehatan Indonesia 9, no. 2: 100–108.

[8] World Health Organization (WHO). 2019. Global School Health Promotion: Implementation Guidance. Geneva: WHO.

[9] World Health Organization (WHO). 2020. Antimicrobial Resistance: Global Report on Surveillance. Geneva: WHO.

[10] World Health Organization (WHO). 2021. Adolescent Health Literacy Framework. Geneva: WHO.

2026-04-20